Minggu, 20 September 2009

apa makna catur warna yg sebenarnya??

Dalam agama Hindu terdapat ajaran Catur Warna yang selama ini dimaknai sebagai pembagian tugas dalam masyarakat yang terdiri dari empat bidang, yakni Brahmana, Ksatria, Wesya, dan Sudra. Brahmana adalah golongan masyarakat yang dalam kehidupan sehari-harinya mengantarkan upacara keagamaan, mendalami ajaran Hindu, serta melakukan pembinaan kerohanian kepada umat Hindu. Termasuk kelompok ini adalah para Sulinggih, Pinandita, dan guru agama Hindu.

Ksatria adalah golongan masyarakat yang bertugas melindungi masyarakat serta menjalankan pemerintahan. Para birokrat beserta jajarannya termasuk dalam golongan ini. Pada jaman dahulu yang termasuk golongan ini adalah raja, patih, punggawa, dan sejenisnya.

Kalau Ksatria bertugas menggerakkan roda pemerintahan, golongan Wesya adalah kelompok masyarakat yang bertugas menggerakkan roda perekonomian. Yang masuk kelompok ini adalah para pengusaha, pedagang, dan sejenisnya. Terakhir, golongan Sudra adalah golongan masyarakat yang bertugas melayani ketiga golongan di atas.

Penjelasan makna dari Catur Warna seperti di atas merupakan pemaknaan yang telah menjadi pegangan sebagian besar umat Hindu di Indonesia selama ini. Disadari atau tidak, pemaknaan demikian telah membagi dan mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan peran masing-masing golongan. Seperti contoh percakapan di atas, karena merasa dirinya seorang pengusaha yang termasuk kategori Wesya, orang tersebut merasa tidak perlu mendalami ajaran Hindu. Dia sudah merasa cukup berperan sebagai seorang Wesya. Urusan agama sudah ada yang menangani, yakni para guru agama Hindu di sekolah yang termasuk golongan Brahmana.

Demikian juga dengan fenomena pejabat tadi. Walaupun kariernya sebagai birokrat tergolong moncer, tetapi dia merasa minder dalam urusan ajaran agama. Sebenarnya peran sebagai seorang Ksatria sudah dijalaninya dengan sukses. Di samping sudah terbiasa memimpin rapat-rapat penting, pejabat tersebut juga dapat dengan lancarnya memberikan pengarahan-pengarahan kepada anak buahnya. Bahkan, wacana tentang nilai-nilai kehidupan terkadang muncul juga di sela-sela pengarahannya. Hal ini berarti pejabat tadi sesungguhnya sudah mumpuni untuk memberikan Dharma Wacana. Berbagai pengalaman sepanjang kariernya sebagai birokrat, jika dikaitkan dengan ajaran-ajaran yang dimiliki agama Hindu, merupakan bahan Dharma Wacana bagus yang dapat menginspirasi umat Hindu lainnya. Akan tetapi, akibat penghayatan terhadap Catur Warna yang telah melekat selama ini, pejabat tadi tidak tertarik untuk mempelajari agama karena mendalami ajaran agama adalah tugas seorang Brahmana.

Apakah kondisi tersebut akan kita biarkan terus berlangsung? Jawabannya pasti tidak. Untuk itu, marilah kita telusuri kembali secara cermat apa sesungguhnya makna Catur Warna.

Catur Warna sejatinya adalah empat warna atau fungsi yang melekat pada diri seseorang. Keempatnya melekat pada diri seseorang. Sebagai contoh adalah seorang ayah. Peran (fungsi) Brahmana wajib dilakoninya dalam rangka memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Seorang ayah bertanggung jawab atas perkembangan pendidikan agama anaknya. Seorang ayah mesti ikut mengajarkan nilai-nilai keagamaan untuk anaknya. Kalau selama ini pendidikan agama Hindu diserahkan begitu saja kepada guru-guru agama, baik di sekolah maupun di Pesraman (Pura), maka mulai saat ini sebaiknya seorang ayah mulai ikut mengambil peran dan bertanggung jawab atas pendidikan agama bagi anak-anaknya. Peran Brahmana yang seharusnya melekat pada dirinya yang selama ini seolah-olah terabaikan, sebaiknya berangsur-angsur mulai dijalankan.

Di samping sebagai Brahmana, seorang ayah adalah juga seorang Ksatria. Dia adalah seorang kepala keluarga, pemimpin keluarga yang bertanggung jawab mengarahkan tujuan berumah tangga. Jiwa kepimpinan mesti dimiliki seorang ayah, sehingga mampu mengarahkan perjalanan hidup anggota keluarga lainnya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.

Seorang ayah adalah juga seorang Wesya yang bertanggung jawab memperoleh penghasilan untuk kelancaran perekonomian keluarga. Peran Wesya sangat sentral dalam keluarga. Ayahlah seharusnya yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Kondisi finansial keluarga sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan anak-anaknya. Kondisi ekonomi yang mapan akan mampu menghantarkan keluarga menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Warna Sudra merupakan fungsi yang tidak kalah pentingnya bagi seorang ayah. Ayah harus bisa melayani kepentingan istri, anak, serta anggota keluarga lainnya. Peran sebagai pelayan bukan berarti merendahkan martabat seseorang. Melayani orang lain sejatinya adalah melayani diri sendiri. Aktivitas melayani akan mendorong tubuh untuk memproduksi hormon yang menyehatkan.

Berdasarkan uraian di atas, jelas-jelas terlihat bahwa Catur Warna melekat pada diri seseorang dan mesti dijalankan keempatnya, walaupun dengan porsi yang berbeda-beda. Khusus untuk Warna Brahmana, marilah kita mulai mendalami ajaran agama Hindu sebaik-baiknya. Mari kita maknai ajaran agama kita, sehingga dengan makna tersebut bisa mengantarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik, lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sejahtera. Berdasarkan pemahaman yang kita dapatkan, marilah kita ajarkan kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa. Di samping kepada anak-anak kita, pemahaman yang diperoleh tersebut dapat juga disampaikan kepada orang lain, baik di sampaikan secara langsung, maupun lewat tulisan. Yakinlah, apa yang kita sampaikan akan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Om Shanti Shanti Shanti Om
Posted by I Nyoman Widia at 10:11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar