Minggu, 20 September 2009

LELUHUR / KAWITAN

PENCARIAN LELUHUR ADALAH BENTUK BHAKTI

Sejak sesudah tahun 1965 di Bali, menurut ceritra orang-tua karena belum ada penelitian khusus mengenai hal ini, disebutkan bahwa di Bali orang-orang banyak melakukan pencarian leluhur, asal-usul atau wit-nya. Pencarian ini umumnya melalui : Balian metuunang, meneliti prasasti yang dimiliki oleh keluarga atau desa, mendatangi ahli babad, atau melakukan laku spiritual seperti meditasi di Pura-Pura Kawitan sampai pada ritual Yadnya untuk memperoleh petunjuk .Setelah ketahuan siapa leluhur atau Kawitannya itu belum cukup karena ketika orang tersebut mendatangi Mrajan Agung atau Pura Kawitan biasanya disana ada pengujiam-pengujian secara niskala misalnya kontak Pemangku dengan Bhatara Kawitan sampai melalui pusaka-pusaka peninggalan leluhur untuk disentuh atau bentuk penghormatan lainnya yang akan bisa meyakinkan Pemangku atau Sesepuh Mrajan Kawitan serta Sang pencari leluhur, bahwa memang benar wit-nya dari situ. Jadi pengujian spiritual/niskala biasanya banyak berperan dalam hal ini. Setelah jelas itu leluhurnya, maka ada upakara yang disebut ”Guru Piduka” yang tujuannya minta maaf karena tidak ingat atau tidak bhakti dengan leluhurnya untuk kurun waktu yang cukup lama. Penemuan leluhur yang tepat biasanya langsung dirasakan dalam kehidupan seseorang yang sering tidak bisa dijelaskan secara logika, seperti kenaikan pangkat, ekonomi dan kesehatan membaik, dan sebagainya. Ada pendapat seorang pengamat sejarah, yang mengatakan bahwa pencarian leluhur ini kadang-kadang menjadi salah , ketika setelah ditemukan leluhurnya ada yang kemudian menjadi angkuh/ sombong karena mengetahui, bahwa leluhurnya dahulu bernama depan I Gusti, I Dewa, atau lainnya, bahkan ada yang sampai membeli gelar, ini tentunya tidak benar.

Jika kita mundur kebelakang pada kenapa orang mencari leluhurnya, maka bisa diceritrakan sebagai berikut. Pada jaman dahulu sebut saja jaman Majapahit berkuasa di Jawa dan juga menguasai Bali, maka di Bali ditempatkan Adipati (bawahan Raja) yang disebut ”Dalem” yang pertama adalah Dalem Kresna kepakisan sekitar tahun 1350 M. Pada masa ini dan sesudahnya ada kejadian yang disebut ”Nyineb Wangsa” yaitu menyembunyikan asal-usulnya mungkin karena takut ketahuan orang lain atau penguasa waktu itu. Ada juga kejadian ”Petita Wangsa” yaitu dihilangkan asal-usulnya oleh penguasa mungkin karena faktor kesalahan atau juga politis. Atas kejadian ini banyak kemudian ”Damuh” (pratisantana kawitan/leluhur) tidak tahu asal-usulnya. Pada suatu jaman dimana damuh ingin tahu asal-usulnya yang karena kehendak Hyang Widhi atau karena orang tersebut mengalami ketidak nyamanan dalam kehidupan sehari-hari, seperti : sakit-sakitan terus, sering kena musibah, kesulitan ekonomi, dan lain sebagainya, maka ada yang kemudian beralih ke faktor niskala untuk memperoleh jawabannya. Jadi perlu digaris bawahi ,bahwa niat awal pencarian leluhur umumnya adalah faktor-faktor ini, namun jika kemudian setelah diketahui leluhurnya adalah I Gusti, I Dewa, dll lalu menjadi sombong, tentu fenomena masyarakat yang mengangungkan diri itu yang keliru dan perlu diluruskan. Pada beberapa puluh tahun yang lalu para orang tua (Tetua) mertua saya di Singaraja sepakat menghilangkan nama I Gusti didepan namanya walaupun mereka sesungguhnya keturunan I Gusti Ngurah Pinatih yang mengiringi Panji Sakti ke Singaraja. Keluarga Pinatih lainnya seperti di Denpasar misalnya tetap memakai I Gusti di depan namanya. Pada jaman itu menghilngkan nama I Gusti adalah suatu kesadaran yang luar biasa, tetapi untuk jaman sekarang sebaiknya nama I Gusti, I Dewa, Ida Bagus, dll tidak perlu dihilangkan karena itu adalah warisan leluhur dan pengingat keluarga, tetapi sikap-mental yang perlu ditingkatkan dengan merasa sesama saudara dengan lainnya. Ketika pulang ke Bali secara kebetulan saya melihat didepan mobil dijalanan ada tulisan : Sentana Arya Kenceng, Pasek Gaduh, dan mungkin ada tulisan seperti itu ditempat atau mobil lainnya, ini adalah sangat baik sebagai suatu bentuk kebanggaan pada leluhurnya, tetapi hal ini akan menjadi salah ketika kita merasa leluhur kita terbaik, tertinggi, termulia, karena ukuran itu hanya Hyang Widhi yang tahu.

Jadi kembali kepada Pencarian leluhur ini, maka para intelektual sebaiknya tidak melihat dari sisi pengetahuan atau intelektual saja melihat fenomena pencarian leluhur ini, perlu juga pendekatan rohani/spiritual, karena berbicara masalah ini adalah berbicara masalah niskala yang tidak cukup hanya dilihat dari sudut keilmuan dengan melihat fakta-fakta saja. Termasuk sebutan ”Priyayi” sebelum Era Majapahit yang ditujukan kepada : Pasek, Pande, dan Bujangga yang sama saja katanya dengan ”Priyayi” Pasca Majapahit yang dikenal dengan Tri Wangsa, ini juga tidak cukup dilihat dari sisi adanya usaha untuk mengembalikan Prestise jaman dulu, tetapi coba lihat juga dari sisi Bhakti, bahwa mereka ingin bhakti dan bangga pada leluhurnya. Jika Pasek, Pande, Bujangga, Ida bagus, I Dewa, Anak Agung, I Gusti, menganggap diri lebih tinggi dari yang lain, maka ini baru kesalahan. Jadi bagi damuh, lakukan terus Bhakti pada Bhatara Kawitan termasuk mencari asal-usul/ Wit bagi yang belum menemukan atau yang masih ragu-ragu dan mohon petunjuk pada Bhatara Kawitan dengan selalu melantunkan Puja Mantra : ”Om Siwa Rsi maha tirtham, Panca Rsi panca tirtham, Sapta Rsi catur yogam, Lingga Rsi mahalinggam, Om Ang Geng Gnijaya namah swaha, Om Ang Gnijaya jagat patya namah, Om Ung Manik Jayas’ca-Semerus’ca- Sa Ghanas ca, De Kuturan, Baradah ca ya namo namah swaha, Om Om Panca rsi Sapta Rsi paduka guru byoh namah swaha”


Penulis,


Nyoman Sukadana
Karanganyar, Solo -Jawa Tengah

Untuk Siapa Kita Berdana Punia?

Seorang wanita yang kebetulan adalah karyawati perusahaan swasta di Jakarta, ngomel terus di hadapan suaminya saat sehabis membaca sebuah berita di koran. Berita tersebut rupanya sangat menyesakkan dadanya. "Ayah, coba baca berita di koran ini!" pintanya kepada sang suami. "Selama ini percuma saya telah memberikan uang kepada pengemis di jalanan." Menurut berita itu, rupanya uang itu diserahkan kepada koordinatornya dan oleh sang koordinator uang hasil mengemis itu digunakan untuk foya-foya.

"Sudahlah, Ibu tidak usah uring-uringan seperti itu! Dulu katanya ikhlas memberi kepada mereka, para pengemis. Mengapa sekarang diributkan?". Sang suami mencoba menenangkan istrinya. 
 
 

apa makna catur warna yg sebenarnya??

Dalam agama Hindu terdapat ajaran Catur Warna yang selama ini dimaknai sebagai pembagian tugas dalam masyarakat yang terdiri dari empat bidang, yakni Brahmana, Ksatria, Wesya, dan Sudra. Brahmana adalah golongan masyarakat yang dalam kehidupan sehari-harinya mengantarkan upacara keagamaan, mendalami ajaran Hindu, serta melakukan pembinaan kerohanian kepada umat Hindu. Termasuk kelompok ini adalah para Sulinggih, Pinandita, dan guru agama Hindu.

Ksatria adalah golongan masyarakat yang bertugas melindungi masyarakat serta menjalankan pemerintahan. Para birokrat beserta jajarannya termasuk dalam golongan ini. Pada jaman dahulu yang termasuk golongan ini adalah raja, patih, punggawa, dan sejenisnya.

Kalau Ksatria bertugas menggerakkan roda pemerintahan, golongan Wesya adalah kelompok masyarakat yang bertugas menggerakkan roda perekonomian. Yang masuk kelompok ini adalah para pengusaha, pedagang, dan sejenisnya. Terakhir, golongan Sudra adalah golongan masyarakat yang bertugas melayani ketiga golongan di atas.

Penjelasan makna dari Catur Warna seperti di atas merupakan pemaknaan yang telah menjadi pegangan sebagian besar umat Hindu di Indonesia selama ini. Disadari atau tidak, pemaknaan demikian telah membagi dan mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan peran masing-masing golongan. Seperti contoh percakapan di atas, karena merasa dirinya seorang pengusaha yang termasuk kategori Wesya, orang tersebut merasa tidak perlu mendalami ajaran Hindu. Dia sudah merasa cukup berperan sebagai seorang Wesya. Urusan agama sudah ada yang menangani, yakni para guru agama Hindu di sekolah yang termasuk golongan Brahmana.

Demikian juga dengan fenomena pejabat tadi. Walaupun kariernya sebagai birokrat tergolong moncer, tetapi dia merasa minder dalam urusan ajaran agama. Sebenarnya peran sebagai seorang Ksatria sudah dijalaninya dengan sukses. Di samping sudah terbiasa memimpin rapat-rapat penting, pejabat tersebut juga dapat dengan lancarnya memberikan pengarahan-pengarahan kepada anak buahnya. Bahkan, wacana tentang nilai-nilai kehidupan terkadang muncul juga di sela-sela pengarahannya. Hal ini berarti pejabat tadi sesungguhnya sudah mumpuni untuk memberikan Dharma Wacana. Berbagai pengalaman sepanjang kariernya sebagai birokrat, jika dikaitkan dengan ajaran-ajaran yang dimiliki agama Hindu, merupakan bahan Dharma Wacana bagus yang dapat menginspirasi umat Hindu lainnya. Akan tetapi, akibat penghayatan terhadap Catur Warna yang telah melekat selama ini, pejabat tadi tidak tertarik untuk mempelajari agama karena mendalami ajaran agama adalah tugas seorang Brahmana.

Apakah kondisi tersebut akan kita biarkan terus berlangsung? Jawabannya pasti tidak. Untuk itu, marilah kita telusuri kembali secara cermat apa sesungguhnya makna Catur Warna.

Catur Warna sejatinya adalah empat warna atau fungsi yang melekat pada diri seseorang. Keempatnya melekat pada diri seseorang. Sebagai contoh adalah seorang ayah. Peran (fungsi) Brahmana wajib dilakoninya dalam rangka memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya. Seorang ayah bertanggung jawab atas perkembangan pendidikan agama anaknya. Seorang ayah mesti ikut mengajarkan nilai-nilai keagamaan untuk anaknya. Kalau selama ini pendidikan agama Hindu diserahkan begitu saja kepada guru-guru agama, baik di sekolah maupun di Pesraman (Pura), maka mulai saat ini sebaiknya seorang ayah mulai ikut mengambil peran dan bertanggung jawab atas pendidikan agama bagi anak-anaknya. Peran Brahmana yang seharusnya melekat pada dirinya yang selama ini seolah-olah terabaikan, sebaiknya berangsur-angsur mulai dijalankan.

Di samping sebagai Brahmana, seorang ayah adalah juga seorang Ksatria. Dia adalah seorang kepala keluarga, pemimpin keluarga yang bertanggung jawab mengarahkan tujuan berumah tangga. Jiwa kepimpinan mesti dimiliki seorang ayah, sehingga mampu mengarahkan perjalanan hidup anggota keluarga lainnya menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.

Seorang ayah adalah juga seorang Wesya yang bertanggung jawab memperoleh penghasilan untuk kelancaran perekonomian keluarga. Peran Wesya sangat sentral dalam keluarga. Ayahlah seharusnya yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Kondisi finansial keluarga sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan anak-anaknya. Kondisi ekonomi yang mapan akan mampu menghantarkan keluarga menuju kemakmuran dan kesejahteraan.

Warna Sudra merupakan fungsi yang tidak kalah pentingnya bagi seorang ayah. Ayah harus bisa melayani kepentingan istri, anak, serta anggota keluarga lainnya. Peran sebagai pelayan bukan berarti merendahkan martabat seseorang. Melayani orang lain sejatinya adalah melayani diri sendiri. Aktivitas melayani akan mendorong tubuh untuk memproduksi hormon yang menyehatkan.

Berdasarkan uraian di atas, jelas-jelas terlihat bahwa Catur Warna melekat pada diri seseorang dan mesti dijalankan keempatnya, walaupun dengan porsi yang berbeda-beda. Khusus untuk Warna Brahmana, marilah kita mulai mendalami ajaran agama Hindu sebaik-baiknya. Mari kita maknai ajaran agama kita, sehingga dengan makna tersebut bisa mengantarkan kita menuju kehidupan yang lebih baik, lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sejahtera. Berdasarkan pemahaman yang kita dapatkan, marilah kita ajarkan kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa. Di samping kepada anak-anak kita, pemahaman yang diperoleh tersebut dapat juga disampaikan kepada orang lain, baik di sampaikan secara langsung, maupun lewat tulisan. Yakinlah, apa yang kita sampaikan akan dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Om Shanti Shanti Shanti Om
Posted by I Nyoman Widia at 10:11

Sabtu, 19 September 2009

THE TEMPLE OF MAJAPAHIT KINGDOM

* LANGSUNG MASUK KE BLOG MAJAPAHIT ABAD-21

4 Juni 2009
PERCAYA ATAU TIDAKPUN RAMALAN SABDA PALON SUDAH BERJALAN DAN TERBUKTI
Diarsipkan di bawah: Ilmu Kasunyatan — Den Blontang @ 12:10 PM

Mungkin Tulisan ini sudah terlambat, tulisan ini terlalu sinis tapi mudah-mudahan bisa memberi pengertian dan kesadaran untuk lebih mencintai Tanah Air, Bangsa dan Nusantara. Mencintai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa, budaya serta peninggalan-peninggalan leluhur seperti Candi-candi, Pura, Puri, Purana ataupun yang lainnya. Memahami bahwa Majapahit masih ada sampai sekarang salah satu contohnya Bali yang sudah di Hindukan karena tidak bisa di Islamkan atau diarabisasi tapi lambat laun akan menjadi Arab kalau tidak disadari. Majapahit adalah bukan kerajaan Hindu tapi penyatuan Siwa Buda. Pada tahun 1961 Hindu di sahkan oleh Pemerintah sedangkan praktek-praktek di Bali sudah ada Ratusan tahun. Hindu identik dengan India Tapi Majapahit Bali tidak identik dengan India. Majapahit Bali semua menghormati leluhur (Silahkan tanya orang Bali yang mengerti sejarah,” Siapa yang di Bali yang tidak punya Kawitan dan menjang Sluwang Majapahit atau Siapa yang tidak melaksanakan odalan dan mecaru serta Upacara Ngenteg linggih yang menghormati leluhurnya biarpun akhirnya ke Tuhan). Pure boleh dikatakan tempat ibadah Hindu Tapi Pura/Puro adalah Keraton Stana daripada leluhur. Silahkan dicek kebenarannya bukan minta yang paling benar ataupun kalau bertanya cari orang yang benar-benar.

(Semua orang tahu akan Ramalan ini, tapi bagi yang tidak tahu silahkan baca terjemahannya dan akan mendapatkan kasunyatan, Majapahit tidak perlu pengakuan tapi Dunia mengakui Majapahit sejarah dan budayanya hanya bangsa sendiri saja yang belum membanggakannya, contoh Candi Borobudur diakui Dunia tapi karena bangsa ini tidak bangga akhirnya ya..menjadi hilang jati dirinya, malah membanggakan Candi kotak di padang pasir. Lihatlah bagaimana setiap orang di negara lain membanggakan peninggalan leluhurnya yang terawat. Disni ada yang berjuang, yang memang kewajiban BELIAU untuk berjuang malah ditutup dan di sunat “seperti adat Arab” tidak boleh memberikan kasunyatan padahal Dunia mengakuinya)
TERJEMAHAN BEBAS RAMALAN SABDA PALON NAYA GENGGONG YANG DULU DILARANG TANPA ALASAN YANG JELAS, PARADAJJAL ARAB KETAKUTAN DAN HABIS KONTRAKANNYA YANG MEMAKSA DIBUMI NUSANTARA TERCINTA

1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis didalam buku babad tentang Negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Orang yang bergelar Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong. > (Cuplikan Serat Babad Majapahit, Darmagandul yang sempat dilarang zaman ORBA ketakutan dan pendiskriminasian etnis yang tidak boleh mempelajari Budaya Cina oleh Penjajah Dajjal yang ingin terus bercokol di negeri ini).
2. Prabu Brawijaya berkata lemah-lembut kepada punakawannya,”Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu lebih baik ikut Islam sekali, sebuah Agama suci dan baik”. > (Pada bait ini sebuah fakta kebohongan terjadi sejak 500 tahun yang lalu, Islam ajarannya baik tapi oknumnya memanfaatkan untuk menggempur yang lainnya dengan cara mudah sekali mengadu domba sesama, menyesatkan yang lain dan merasa paling benar dimuka bumi sampai detik ini. Tapi bagi yang tidak melakukan pemaksaan dan kekerasan serta pengrusakan apapun alasannya ya….jangan sewot atau mencak-mencak kebakaran jenggot).
3. Sabda Palon berkata kasar, ”Hamba tidak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang setanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para Raja di tanah Jawa. Sudah digaris kita harus berpisah”. > (Ini kekukuhan orang Jawa yang masih mempertahankan adat dan budayanya, jaman sekarang mengucapkan hal seperti ini seperti “tidak mau masuk Islam” pasti akan disingkirkan, disesatkan dan dieliminasi, sayang seribu sayang Nusantara yang begitu beragam baik adat, budaya serta keyakinan akan dijadikan satu yakni budaya Arab disetir Dajjal. Lihat berita Nusantara TV, Koran dan lain-lain.)
4. Berpisah dengan sang Prabu kembali keasal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah lima ratus tahun saya akan menganti Agama Buda lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa. > (Ajaran Buda maksudnya ajaran Budi pekerti, tapi tidak ada salahnya memahami ajaran Siwa Buda atau istilahnya kejawen, apapun menurut orang yang tidak senang/aneh yang sampai detik ini banyak diterapkan termasuk di Bali karena Bali adalah Majapahit yang dikenal daripada Indonesia oleh dunia yakni percaya adanya leluhur, kita ada dengan perantara leluhur, sebelum semua menghadap kepada Tuhan YME/Alloh SWT melalui Muhammad SAW/Allah melalui Yesusnya/Ida Hyang Widi Wasa/ Thian atau apapun sebutannya. Kita mengenal Agama yang dibawa oleh penjajah karena Orang tua kita, ingat !!. Jadi tidak ada salahnya kita mengenal leluhur dulu, Nama Tuhan terlalu suci untuk kita sebut dengan mulut yang banyak busuknya ini, sedikit-sedikit membawa nama Tuhan seakan-akan Tuhan yang menyuruh, renungkan!!)
5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan Jin, Setan Brakasaan dan lain-lainya. Belum legalah hati bila belum Saya hancur-leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata Saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya. > (Banyak orang jadi tumbal sia-sia, kecelakan dimana-mana dengan mengenaskan, saling bantai sesama saudara dengan pikiran emosi dan baru-baru ini Gunung Merapi bereaksi. Pintu langit dibuka dan pintu bumi dibiarkan terbuka untuk para roh-roh yang dianggap gentayangan, roh-roh yang dibantai dilepas untuk membalas, terbukti hampir setiap hari terjadi kebakaran hingga ada yang dipanggang hidup-hidup baik didarat, laut dan udara. Diaben yang lebih mengenaskan. Di Bali Upacara Ngaben masih ada upacaranya. Lha…ini langsung hidup-hidup. Pertanyaannya,”Mengapa terjadi setelah terhitung 500 tahun sejak Hyang Sabda Palon bersabda”).
6. Lahar tersebut mengalir kebarat daya, baunya tidak sedap. Itulah “Pratanda “ kalau saya akan datang. Sudah menyebarkan Agama Buda (Budi Pekerti yang luhur). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat dirubah lagi.
7. Kelak waktunya paling sengsara di Tanah Jawa ini pada tahun, Lawon Sapta Ngesti Aji (ada yang mengatakan 1878 atau 1877 tapi kejadiannya kenapa empat sampai lima tahun yang lalu itulah tidak ada yang tahu tetapi Majapahit di hancurkan habis oleh Demak Islam sekitar tahun 1503, tetapi keturunannya tidak habis sama sekalikan?. Bahkan yang menyerang juga sama-sama keturunan masa Majapahit hanya di provokasi oleh sunan (dulu, cuplikan Babad Kadiri) dan juga masih terjadi provokasi untuk menghabisi sesamanya (sekarang). “Cuma bilang sesat” habislah mereka digebukin sama massa yang memang dibodohi dulu. 500 tahun kemudian pada tahun 2003 mulailah ada “goro-goro”, 2004 Serambinya Mekkah dihancurkan dulu dengan alam, sampai sekarang bisa dilihat sekeliling dan Koran serta TV. Itulah sejarah, semua berhak punya analisa karena dulu orang Jawa tidak boleh belajar sejarah biar bodoh dan goblok dan bisa terus dijajah, semua tulisan jawa dan cina berganti dengan tulisan arab, Tulisan Jawa dan Cina dianggap asing padahal Muhammad sendiri bersabda “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, makanya orang-orang Cina dilarang sekolah dan tulisan Cina dilarang fakta jangan ingkar. Uang kepeng/gobog banyak ditemukan berhuruf Cina. Silahkan datang ke Trowulan dan tanya pada orang yang membuat Batu bata merah ?. Adakah mereka menemukan uang gobog selain berhuruf Cina dan Jawa?. , Bali ornamen Bangunannya sama dengan Klenteng/tempat leluhur atau rumah Cina pada umumnya, orang pribumi dianggap asing, tulisan Cina dianggap asing, diskriminasi kepada bangsa leluhur Cina yang peninggalannya sebelum Gujarat masuk, padahal orang Arab disini itu yang lebih asing, “Apakah mereka asli, sejarah mengatakan kita adalah bangsa Indo-Cina” HADIST Nabi Muhammad pun yang diatas dimentahkan dengan sok berkuasa di negeri Nusantara yang beragam budaya, adat istiadatnya hingga berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa malah mau diarabisasi piye to mas…masss . Ada ada apa sebenarnya dulu, kenapa sejarah yang sebenarnya dipasung lihat pada masa ORBA apalagi sejarah 500 tahun yang lalu. Kalau memang mau berfikir kawula Majapahit jangan mau jadi pelanduk dan mati ditengah-tengah. Jangan goblok lagi dimanfaatkan untuk menggebuk sesama dan untuk komandannya jangan korbankan saudara kami mereka memang bodoh dan goblok karena terlalu banyak dijajah tapi salut kawula Majapahit masih tegar melaksanakan Adat istiadat, Budaya serta unggah-ungguhnya. Untuk orang Cina yang sudah turun temurun lahir di Nusantara kalian bukanlah warga keturunan yang baru datang, (asing) tapi kaum yang membawa peradaban yang modren dan bagus dari abad pertama sejarah bangsa ini. Makanya tulisan Cina dilarang supaya tidak tahu lagi sejarahnya berganti dengan sejarah Arab. Untuk yang Arab lahir disini banggalah punya Nusantara. menghirup udara Nusantara, kawin disini patutlah menghargai peninggalan leluhur kami, bangga dengan Nusantara yang beragam, jangan kalian rusak. Ramalan ini dulu sudah beredar tapi dianggap lelucon/tahayul hingga Hyang Sabda Palon menumpas melalui alam, believe or not). Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang ditengah-tengah, tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia. > (Terbukti tiba-tiba banjir bandang, hujan sedikit longsor, rob dan lain sebagainya yang menurut pakar salah prediksi, mari direnungkan !!).
8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa (Nusantara). Itu sudah kehendak Tuhan tidak bisa dipungkiri dan disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada di tangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya. < (Percaya leluhur bukan berarti tidak percaya Tuhan yang menciptakan Alam dan isinya, hanya melalui perantara leluhurlah kita semua bisa sampai ke Tuhan). 9. Bermacam-macam bahaya yang membuat Tanah Jawa rusak. Orang-orang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para Priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang dihutan. > (Berita Tv, Koran terjadi krisis Global, banyak pengusaha bangkrut, disebabkan yang merusak Nusantara dengan membawa misi Agama import adalah Saudagar-saudagar makanya para saudagar dikutuk “Saudagar Tuna Sadarum”. Memperjual-belikan seenaknya. Orang yang bertitel baik sarjana maupun ningrat banyak yang susah bahkan mempermalukan dirinya sendiri dengan, korupsi, membunuh ataupun bunuh diri, orang dulu bangga waktu membantai sesamanya sekarang dibantai oleh Alam, kecelakaan dengan kepala pecah di gorok dan lain sebagainya. Impas !!).
10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan heblat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tetapi siang hari banyak begal. > (Penjelasan ini bisa dilihat di sekeliling kita dan di media cetak maupun elektronik, KASUNYATAN).
11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan Negara (Tapi sekarang Negara diatur Dajjal yang membawa kerusakan dengan menerapkan aturan yang menguntungkan kelompoknya atau pribadinya dan mengkebiri yang lainnya), sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut masih berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata ditanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia alias tewas. > (Flu burung, flu Babi cikungunya nanti menuysul apalagi penulis tidak tahu…..!!!).
12. Bahaya penyakit luar biasa. Disana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang > (lihat berita TV, Koran).
13. Seperti lautan meluap airnya naik kedaratan (Banjir Rob). Merusakkan kanan-kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup dipinggir sungai banyak yang hanyut terbawa sampai ketengah laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan bergemuruh suaranya.
14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap kekanan serta kekiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali (lihat saja). Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun > ( sudah terbukti di Aceh yang menamakan serambi Mekkah di hancurkan dulu oleh alam, tanpa tersisa mengapa ??. tanyakan pada diri anda sendiri dan masih banyak kejadian diluar dugaan manusia).
15. Gempa bumi 7 kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah “BREKASAKAN” yang menyeret manusia masuk kedalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh Kebanyakan mereka meninggal dunia. < (banyak yang Bunuh Diri, tertimpa bangunan dan banyak lagi peristiwa tragis tapi miris) 16. Demikianlah kata-kata Sabda palon yang segera menghilang sebentar, tidak tampak lagi dirinya. Kembali ke alam-Nya dengan Mokswa. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun Bagaimana lagi segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin dirobah lagi. > (Kata-kata terakhir daripada Prabu Brawijaya banyak diucapkan oleh orang sekarang, apabila terjadi musibah dalam hati menjawab ya…itu sudah takdir, kodrat mahluk hidup, tanpa memikirkan dengan otak yang Gratis ini yang diberikan Tuhan dibantu kasih sayang kedua Orang Tua. Hukum sebab-akibat tidak pernah diterapkan, karena sudah kita di bodohkan dengan Dajjal Arab. Bagi yang berharta, musibah ini ini tidak ada artinya tapi bagi orang miskin, kere, semua ini ada artinya, karena mereka memang memandang segala sesuatu dengan Uang, harta yang utama bukan Budi pekerti, budaya yang sudah diterapkan turun temurun sejak jaman Majapahit yang terbukti bisa menyatukan Nusantara dengan Rakyatnya adil makmur Gemah Ripah Loh Jinawi. Sekarang semua ramalan berjalan percaya ataupun tidak kenapa ??. Karena memang sudah ada yang diemong lagi oleh Hyang Sabda Palon. Yakni Raja Majapahit Masa kini yang mempertahankan Adat Budaya Nusantara tanpa mau tunduk oleh Dajjal Arab. Banyak yang mengaku keturunan Majapahit bahkan mengaku Raja Majapahit, tapi kehidupannya tidak identik sama sekali dengan sejarah Majapahit sebelum Islam (Abad 15 Islam Demak menghancurkan jaman Majapahit diseponsori Dajjal bermata satu merasa benar dan paling benar). Kalau dulu Jawa, Nusantara di Islamkan, di Kristenkan, Di Hindukan sekarang Islam, Kristen, Hindu di Jawakan artinya Jawa itu Ngerti, Contoh ada pengungkapan Oalah Cino iku kog Jowo tenan yo..yo ?. Itulah fakta yang akan merubah Nusantara andaikan semua orang mengerti dengan Sejarah dan Budayanya. Terkadang orang hafal sejarah dan budaya dari bangsa lain. Tapi Sejarah dan Budaya bangsa sendiri tidak mau. Adat-adat Nusantara di cap sesat, lontar-lontar atau Kitab-kitab majapahit kuno ajaran leluhur dianggap ajaran setan, leluhur dianggap setan, hantu. Padahal Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa serta semboyan untuk para prajurit di ambil dari kitab-kitab Majapahit inipun nantinya akan diganti dengan tulisan arab, Ironis !!. Sukses bangsa Arab menjajah negeri ini dan kami….(kalian) ketakutan kalau Bangsa Arab memutus hubungan kemana lagi berhaji itulah salah satu kemenangan mereka. Banyak orang Jawa memakai nama Arab biar mudah dihormati. Tidak peduli apa yang terjadi sesama bangsa sendiri saling membantai (lihat saudaranya digebukin gara-gara tidak sepaham dengan mereka), orang jawa yang sok kearab-araban lebih Arab daripada Bangsa Arab sendiri. Bangsa Arab masih punya hati Nurani menjalankan kehidupannya biarpun masih ada TKW kita yang dianggap Budak, toh memang sejarahnya begitu (Jahilliyah makanya sampai diutus Nabi untuk membetulkan tabiat mereka). Orang jawa yang kearab-araban lebih biadab dari pada orang arab sendiri, menggebuk yang lemah, membantai yang tidak tahu sekedar unjuk kekuatan. Sifat Dajjal memang seperti itu. lihat berita TV, KORAN (yang tidak merasa ya…jangan sewot) . Bangsa ini sudah punya Budaya sebelum Gujarat masuk membawa misi Agama, sudah punya Budaya. Ajining Bongso soko Budoyo !. Jangan terulang kembali peristiwa PKI yang langsung dibantai semua ataupun dicap untuk dimusnakan saudara kita, peristiwa 14-15 Mei 1998, Penggebukan aliran kepercayaan, dan Jangan mudah menamakan sesat bagi yang lainnya, hingga untuk memancing massa yang bodoh memang dibodohkan mudah menhancurkan sesamanya. Tidak semua massa tahu pokok pemasalahnya, mereka bodoh hingga dimanfaatkan oleh orang yang punya kepentingan dengan kepintarannya (pinter keblinger). Wahai kawula Majapahit jangan mau diadu domba lagi termasuk oleh bangsa sendiri, sadarlah !!. Dan pahamilah Sabda dari Hyang Sabda palon untuk mencintai Nusantara dan sadar akan terjadi dan sudah terjadi. Majapahit hancur oleh bangsa lain pasti maklum, tetapi Majapahit hancur oleh bangsa sendiri, wajahnya sama, bahasa sama dan satu Nusa satu Bangsa, Ironis !!. Penulis waktu mengungkapan hal ini sedikit bergetar dan ada sesuatu yang aneh tapi siap mempertanggung-jawabkan apa yang sudah di bagi melalui media ini). RAMALAN SUDAH BERJALAN MAU ATAU TIDAK MAU YANG DULU DILARANG BEREDAR, MENGAPA ?…… KETAKUTAN DAJJAL PULANG KEARAB. KARENA NUSANTARA SANGAT TERLALU KAYA RAYA BAGAIKAN SORGA TERMASUK ORANGNYA GANTENG DAN CANTIK. SEHINGGA MENJADI REBUTAN BANGSA LAIN. TAPI KARENA TIDAK BANGGA AKHIRNYA DIHANCURKAN OLEH DANYANG TANAH JAWA. NENEK MOYANG BANGSA KITA SUDAH SEJAHTERA MULAI ABAD PERTAMA, DIARAB MASIH PERANG SAUDARA DAN MASIH JAHILLIYAH. PATUT BANGGA, DIJAJAH SEKIAN LAMANYA BERARTI NUSANTARA MEMANG KAYA RAYA, KALAU TANDUS SIAPA YANG MAU MENJAJAH ?. (rahajeng dan rahayu untuk anda semu
MEMAKNAI BANTEN DENGAN BIJAK

Banten yang juga berarti Enten atau sadar/ingat, bagi umat Hindu etnis Bali, mengajarkan kita agar selalu ingat dengan Hyang Widhi. Sebagai sarana ingat ini, maka wujud ”Banten” adalah merupakan medianya. Banten dewasa ini menjadi sangat menarik dan menjadi pembicaraan umat Hindu karena ada yang mendefinisikan sebagai wujud bakti (ingat) sehingga tidak perlu besar/mewah ada juga yang mempertahankan format yang ada warisan pendahulu kita. Bahkan sebagian umat menjadikan Banten ini sebagai sarana mutlak untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta artinya kalau tidak ada banten tidak sreg. Seorang Sulinggih yang tulisannya selalu saya baca dan file tersendiri yang sempat menyampaikan dengan 5 Daksina saja sudah berani Muput Pitra Yadnya sekarang bergabung keorganisasi yang menjadikan banten sebagai sarananya, semoga saja komitment untuk memajukan umat Hindu dengan penyederhanaan banten tetap dipegang teguh oleh beliau. Banten ini juga menjadi menarik ketika dikaitkan dengan umat Hindu bukan etnis Bali misalnya Jawa karena mereka tentu tidak mengerti banten yang umum diterapkan umat Hindu di Bali. Jadi banyak wacana tentang banten ini , tetapi kita tidak melihat bagaimana banten ini dari sudut pandang umat Hindu yang menggunakannya, yang sering hanya menjadi objek saja.

Bagi umat Hindu etnis Bali secara umum, bahwa Banten ini tetaplah merupakan sarana menghubungakan diri untuk kegiatan Panca Yadnya dalam suasana ”ketidak tahuan makna simbolisnya secara utuh”. Sulinggih mungkin tahu, atau Pinandita, juga Sarati Banten, tetapi berapa persen mereka dibanding umat yang menggunakan banten ini. Jadi kita mesti melihat fenomena umat yang menggunakan banten ini dengan baik jika ingin banten ini menjadi sarana yang effektif. Umat ini pada dasarnya menyerahkan pada orang yang dianggap mengerti, apakah itu Sulinggih atau Pinandita/Pemangku. Kadang jika harus mengeluarkan uang puluhan juta untuk membeli banten, mereka akan lakukan walau menguras harta bahkan mungkin meminjam, itu karena keyakinan mereka akan banten ini. Jika ada yang mencoba menyederhanakan banten ini sering malah didebat dan dianggap menentang kebiasaan. Pemangku juga banyak yang ikut larut dalam kebiasaan ini dan menerima saja benten yang disediakan bahkan kadang menambahkan dan melanggengkan kebiasaan yang harusnya bisa disederhanakan. Namun ada juga Pemangku yang cerdik, beliau tetap Ngenteb (mengantarkan persembahyangan) tetapi diawal-awal biasanya diucapkan ”Menawi banten puniki kirang ampure, mangda Ida raris nunas ring Pasar Agung”  Jika sarana persembahyangan ini kurang, maaf mohon agar Ide (yang di Puja) mengambil di Pasar Agung (Pasar Agung itu salah satu Pura di Lempuyang Luhur). Jadi fenomena diatas menggambarkan realita umat atau juga Pemangku yang khawatir banten ini kurang apalagi saat Pitra Yadnya jangan-jangan Sang Atma tidak memperoleh tempat di Sunya Loka, atau kalau persembahan kepada Leluhur dan Bhatara lalu banten kurang, jangan-jangan Ida Bhatara juga Leluhur menjadi ”Bendu/Marah”. Yang menjadi pertanyaan apakah benar seperti itu ? apakah Bhatara, Leluhur yang sudah Meraga Dewa Hyang masih menuntut banten harus ini harus itu, hal ini yang harus dijelaskan oleh orang yang mengerti baik Sulinggih, Pinandita/Pemangku (yang faham) atau intelektual Hindu, bahwa hal itu tidak benar karena yang diperlukan dalam setiap persembahan adalah ’ketulusan hati”. Ada bahkan tokoh umat yang menyampaikan akan perlunya banten, katanya hanya para Maha Rsi yang mampu sampai pujanya kepada Sang Pencipta hanya dengan sarana sebuah dupa atau tanpa sarana apapun. Kalau begini berapa juta umat Hindu yang setiap hari bersembahyang sia-sia karena tidak tercapai doanya hanya karena tidak memakai banten. Lalu kalau memakai banten apakah akan sampai doa atau puja bhaktinya ?, tidak seorang pun yang tahu dan kita tidak perlu tahu karena kewajiban kita adalah memanjatkan puja bhakti dengan tulus dan tidak perlu berpikir apakah doa kita sampai atau tidak.

Pemakaian banten tidak harus ditentang karana hal itu tidak salah, tetapi kalau fenomena banten tetap seperti ini bagi umat Hindu etnis Bali, apalagi justru para tokoh umat bahkan Sulinggih justru mengajegkan banten ini terus, maka umat tetap akan ”miskin karena Yadnya”. Uang yang ada tidak bisa lagi untuk kehidupan, seperti : pendidikan, kesehatan (asuransi), tabungan, apalagi membantu fihak lain (dana paramita), bahkan dalam situasi yang serba sulit sekarang ini, maka umat Hindu di Bali akan semakin terpuruk dalam kemiskinan. Dalam situasi ini maka srada (iman) dan bhakti (taqwa) akan memudar dan kemungkinan untuk beralih agama bisa terjadi, atau dimanfaatkan oleh orang-orang yang mendewakan uang untuk mencapai tujuan (money politic) seperti : agar dapat pengikut/massa bagi orang politik atau orang yang hanya sekedar mempertahankan prestise yang semu.(gelar/kasta) dengan bantuan kepada orang lain tetapi dengan pamrih. Jadi satu-satunya pengetahuan yang perlu difahami oleh umat yang tidak faham dengan makna simbolis banten secara detail, adalah artikan ”Banten sebagai sarana untuk menghubungkan bhakti kehadapan Hyang Widhi juga Leluhur, dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan”. Jangan sampai berhutang untuk sebuah banten agar tidak menderita dalam hidup, tetapi memperoleh ketenangan skala-nisklala ,moksartham Jaghadita.



Penulis,


Nyoman Sukadana
Karanganyar - Solo - Jawa Tengah
13-03-2007
TajMahal adalah Kuil Hindu yang disabotase
Monday, September 7, 2009
By ngarayana

Di internet, baik yang dipublikasikan sebagai artikel, forum dan/atau mailing list sudah banyak dibahas mengenai kontroversi TajMahal. Namun untuk mendukung argumen-argumen dalam home page ini saya kira tidak ada salahnya saya tuliskan lagi di sini.

Artikel ini merupakan saduran dengan perbaikan terjemahan dari email yang saya peroleh dari milis Peradah (peradah-indonesia@yahoogroups.com) yang diposting oleh member yang menggunakan username Gede Sugik. Untuk lebih memperjelas dan menguatkan bukti-bukti yang menyatakan bahwa Taj Mahal adalah merupakan Kuil Hindu untuk dewa Siva yang disabotase oleh pejajah Islam waktu itu, saya juga menyadur dari beberapa sumber-sumber yang dapat dipercaya, salah satunya adalah dari tulisan Stephen Knapp.

Pencetus isu yang sangat kontroversial ini salah satunya adalah seorang ahli arkeologi dan sejarah bernama P.N.Oak. Sebagai mana yang sudah saya posting sebelumnya, P.N. Oak juga menelurkan karya tulis ilmiah yang tidak kalah fenomelanya, yaitu yang menyatakan Ka’bah adalah merupakan bekas kuil Hindu. Sebagai seorang ilmuan tentunya beliau berargumentasi berdasarkan data-data ilmiah yang ditemukan di lapangan. Bagaimana beliau membuktikan bahwa TajMahal pada awalnya adalah kuil dewa Siva bernama Tejo Himalaya? Mari kita telusuri bersama.

Gambar Om Kara yang dimodifikasi

Jika anda mengunjungi TajMahal, anda akan melihat berbagai annex, puing-puing tembok pertahanan, bukit-bukit, danau kecil, air terjun kecil, tamam megah, ratusan kamar berberanda, teras, menara bertingkat-tingkat, kamar-kamar rahasia, kamar tamu, kandang kuda, puncak Trisula pada kubahnya dan huruf sakral Hindu “OM” yang biasanya diukir di tembok suatu tempat suci.

Gambar lambang Siva di puncak TajMahal

Dilihat dari segi nama Tajmahal itu sendiri, dapat kita lihat bukti-bukti sebagai berikut:

1. Sebutan TajMahal sendiri tidak pernah nampak dari surat-surat atau arsip-arsip kerajaan Mogul, bahkan semasa pemerintahan Pangeran mogul Aurangzeb masa yang diisukan sebagai masa “konstruksi” TajMahal
2. Kata akhiran “Mahal” bukan istilah muslim karena tidak ada satupun negara muslim di dunia ini, dari Afghanistan sampai Aljazair, yang menamakan gedung mereka dgn kata “Mahal”.
3. Anggapan umum bahwa kata TajMahal berasal dari nama permaisuri Mumtaz Mahal, yang dikubur didalamnya, tidak logis. Beberapa alasannya antara lain; namanya bukan Mumtaj Mahal tetapi Mumtaz-ul-Zamani. Apalagi nama wanita India akan terdengar aneh kalau kita memotong
ketiga huruf pertamanya, “Mum”, dan menempelkannya pada nama
gedung.
4. Karena nama wanita itu adalah Mumtaz (berakhir dgn ‘Z’) seharusnya nama gedung itu menjadi Taz Mahal, dan bukan Taj (berakhir dgn ‘J’).
5. Sejumlah pengunjung Eropa pada jaman Shahjahan merujuk pada gedung itu sebagai Taj-e-Mahal, sesuai dgn tradisi jaman itu dan sesuai dgn kata Sansekerta tua Tej-o-Mahalaya, nama sebuah kuil dewa Siwa. Tetapi Shahjahan dan Aurangzeb secara licik menghindari penggunaan kata Sansekerta itu dan hanya menyebutnya “makam suci”.
6. Sejarah mencatat bahwa semua anggota istana atau anggota kerajaan Muslim termasuk Humayun, Akbar, Mumtaz, Etmad-ud-Daula dan Safdarjang dikubur dalam kuil-kuil dan tempat-tempat suci Hindu, bahkan ternyata di Indonesia juga demikian. Banyak tempat suci berubah menjadi kuburan sebagaimana saya kutip dalam sebuah artikel saya di homepage ini.
7. Kalau memang makam/kuburan, mengapa memakai kata “Mahal”, yang nota bene berarti “mansion/gedung” ?
8. Istilah TajMahal tidak tercatat dalam arsip istana mogul. Hal ini sangatlah aneh untuk suatu pembangunan gedung semegah itu. Hal ini sudah barang tentu karena kedua komponen namanya, ‘Taj’ dan’ Mahal’ adalah kata-kata Sansekerta.

Gambar Surat Aurangzeb kepada Shahjahan yang menyatakan TajMahal adalah kuil Hindu

Dilihat dari segi tradisi sebuah candi atau kuil yang merupakan tempat suci Hindu, maka dapat kita lihat kenyataan berikut ini.

1. Isitlah TajMahal adalah dari istilah sansekerta TejoMahalay / Tejo Mahalaya, yaitu merujuk pada sebuah Kuil Siva.
2. Tradisi lepas sepatu sebelum masuk gedung berasal dari jaman pra-Shahjahan saat TajMahal masih merupakan Candi Siva. Kalau memang TajMahal dulunya kuburan, orang tidak perlu melepaskan sepatu karena sepatu wajib dikenakan saat mengunjungi kuburan.
3. Ukiran kendi-kendi berjumlah 108 (seratus delapan) yang merupakan angka suci dan keramat dalam tradisi Hindu.
4. Orang-orang yang diberi tugas khusus untuk memperbaiki dan merawat TajMahal mengatakan telah melihat dalam tembok-tembok tebal dan ruang-ruang rahasia di lantai bawah yang tidak terbuka untuk umum yang berisi ukiran sakral lambang-lambang dewa Siva serta lingga Yoni Siva dan juga atribut-atribut dewa-dewa lainnya.
5. Di India ada 12 Jyotirlinga, yaitu candi-candi megah bagi Dewa Siva. Tejomahalaya alias Tajmahal nampaknya merupakan salah satunya yang dikenal sebagai Nagnatheshwar karena penuh dengan hiasan ular naga. Padahal dalam tradisi Islam tidak diperkenankan mengukir/membuat suatu perwujudan naga seperti ini, kenapa dalam bangunan tajMahal terdapat hiasan ular naga?
6. Manuskrip yang merupakan bagian kitab suci Hindu dibidang arsitektur yang terkenal berjudul Vishwakarma Vastushastra menyebut adanya ‘Tej-Linga’ diantara para Shivalinga, yaitu simbol-simbol Dewa Siva yg terbuat dari batu. Karena sebuah Tej Linga di-”konsekrasi” di Taj Mahal, maka timbullah isitilah TajMahal alias Tejo Mahalaya.
7. Kota Agra, tempat lokasi TajMahal, adalah pusat kuno pemujaan Siva. Para penduduk orthodox-nya selama berabad-abad meneruskan tradisi pemujaan di lima candi Siva sebelum makan malam selama bulan Shravan.
8. Beberapa abad terakhir ini, warga Agra hanya dapat meneruskan tradisi ini di 4 kuil Siva yaitu, Balkeshwar, Prithvinath, Manakameshwar dan Rajarajeshwar. Mereka kehilangan jejak kuil kelima dewa Siva, tempat pemujaan nenek moyang mereka. Ternyata, kuil ke lima adalah Agreshwar Mahadev Nagnatheshwar yaitu, Dewa Agra, dewa para naga, yang di-konsekrasi di Tejomahalay alias Tajmahal.
9. Suku yang mendominasi wilayah Agra bernama Jat. Nama mereka bagi Siva adalah Tejaji. Isu Khusus tentang Jat dalam majalah The Illustrated Weekly India (Juni 28,1971) menyebut bahwa suku Jat memiliki Teja Mandir atau kuil-kuil Teja. Ini karena Teja-Linga adalah diantara beberapa nama Shiva Linga. Dari sini jelas bahwa Taj-Mahal adalah Tejo-Mahalaya, tempat kediaman megah milik Tej/Siva.

Dari manuskrip-manuskrip kuno dan bukti-bukti arsip lainnya diperoleh keterangan antara lain sebagai berikut;

1. Arsip istana Shahjahan sendiri berjudul Badshahnama, pada halaman hal 403, jilid 1 mengakui bahwa sebuah istana megah dan unik yang dihias dengan atap berupa kubah (Imaarat-a-Alishan wa Gumbaze) diambil dari
Jaipur Maharaja Jaisigh bagi kuburan Mumtaz, dan gedung itu dikenal sbg istana Raja Mansingh.
2. Surat Pangeran Aurangzeb kepada ayahnya, kaisar Shahjahan, tercatat paling tidak dalam 3 bagian berjudul `Aadaab-e-Alamgiri’, Yadgarnama’, dan `Muruqqa-i-Akbarabadi’ (diedit oleh Said Ahmed, Agra, 1931, halaman 43, catatan kaki 2). Dalam surat itu, Aurangzeb mencatat tahun 1652 M bahwa berbagai bagian gedung dalam ketujuh tingkat Taj Mahal itu saking tuanya sehingga atap-atap sering bocor, sementara dibagian utaranya terlihat garis-garis retakan. Oleh karena itu, Aurangzeb langsung memerintahkan operasi darurat penyelamatan gedung itu atas biaya sendiri sambil menganjurkan kepada kaisar agar perbaikan yang lebih sulit dilaksanakan dikemudian hari. Inilah bukti bahwa pada masa kekuasaan Shahjahan, komplek Taj sudah begitu tua sehingga memerlukan perbaikan segera.
3. Maharaja Jaipur mencatat dalam koleksi tulisan rahasia-nya, `KapadDvara’, 2 perintah dari Shahjahan tertangal 18 Desember, 1633 M yang mempertanyakan kembali komplek Taj. Ini jelas sesuatu yang sangat memalukan bagi penguasa Jaipur sampai ia merahasiakan dokumen tersebut.
4. Arsip negara bagian Rajasthan di Bikaner menyimpan 3 perintah
yang disampaikan Shahjahan kepada Jaisingh, sang pemimpin Jaipur, memerintahkannya untuk mensuplai marmer (bagi makam Mumtaz) dan cetakan huruf-huruf Al-Quran dari tambang marmernya di Makranna dan juga sejumlah tukang ukir batu. Jaisingh sepertinya begitu marah dengan pencurian Tajmahal secara blak-blakan ini sampai ia menolak perintah Shahjahan.
5. Ketiga perintah diatas ini dikirim kepada Jaisingh 2 tahun setelah kematian Mumtaz. Kalau pendirian Tajmahal memang sampai memakan waktu 22 tahun sebagaimana yang diyakini secara absur atas sumber dari pengunjung Prancis, Travernir selama ini, maka marmer itu seharusnya baru akan diperlukan 15 atau 20 tahun sesudahnya dan tidak segera setelah kematian Mumtaz.
6. Lebih-lebih, ketiga perintah itu tidak pernah menyebut Tajmahal, ataupun Mumtaz, ataupun penguburan. Harga dan kuantitas batu marmer juga tidak disebut. Ini menunjukkan bahwa jumlah marmer yang diperlukan tidaklah besar, hanya sekedar untuk menambal atau mengubah dekorasi Tajmahal. Shahjahan tidak pernah mampu mendirikan gedung semegah Tajmahal kalau seandainya harus tergantung pada marmer Jaisingh yang sering tidak kooperatif.

Beberapa kesaksian dan penjelasan dari ahli sejarah dan juga pengunjung mancanegara memberikan penjelasan yang sangat kontradiksi dengan apa yang diyakini selama ini.

1. Tavernier, jeweller Perancis mencatat dalam buku perjalannannya bahwa Shahjahan secara sengaja mengubur Mumtaz didekat Taz-i-Makan (Kuil Taj) dimana pengunjung Eropa sering datang dan dapat mengaguminya. Ia juga menambahkan bawha ongkos tangga-tangganya lebih tinggi daripada ongkos pendirian keseluruhan gedung. Pekerjaan yang dilakukan Shahjahan di kuil Siva, Tejomahalaya, berupa penghancuran dekorasi mahal, mencongkeli arca-arca Siva di dua tingkat dan sebagai gantinya menancapkan centotaph dan kutipan-kutipan Al-Quran diseputar kubu-kubu dan tembok-tembok keenam tingkat gedung tersebut.
2. Peter Mundy, pelncong dari Inggris yang datang ke Agra tahun 1632 (1 tahun setelah kematian Mumtaz) menulis bahwa tempat-tempat menarik di dan sekitar Agra, termasuk makam, taman dan bazaar Taj-e-Mahal. Ini menegaskan bahwa Tajmahal memang gedung unik bahkan sebelum
Shahjahan.
3. De Laet, pejabat Belanda mendaftarkan istana Mansingh sekitar 1 mil dari benteng Agra, sebagai gedung megah jaman pra-Shahjahan. Arsip istana Shahjahan, Badshahnama, mencatat penguburan Mumtaz di dalam istana Mansingh yang sama.
4. Bernier, pengunjung Perancis mencatat bahwa non muslim dihalangi masuk lantai bawah tanah pada saat Shahjahan merebut istana Mansingh yang mengandung sinar-sinar terang. Jelas ia merujuk kepada pintu-pintu perak, pinggiran emas, dekorasi batu-batuan berharga, dan kalung dan dawai-dawai mutiara yang digantung di leher arca Siva. Shahjahan menyita semua kekayaan gedung ini dan menjadikan kematian Mumtaz sebagai alasan untuk menyembunyikan maksud sebenarnya.
5. Johan Albert Mandelslo, yang menggambarkan secara detil kehidupan di Agra tahun 1638 (7 tahun setelah kematian Mumtaz) dalam buku `Voyages and Travels to West-Indies’ (terbitan John Starkey dan John Basset, London), tidak menyebutkan apapun tentang konstruksi gedung megah macam TajMahal, yg “kata orang” dibangun antara tahun 1631 sampai 1653.

Penemuan yang tidak kalah menariknya di dalam gedung TajMahal itu sendiri adalah adanya tulisan-tulisan sansekerta yang sama sekali tidak sesuai dengan keberadaan kaligafi Al-Qur’an yang menghiasi TajMahal. Tulisan Sansekerta ini juga mendukung kesimpulan bawha Taj dulunya kuil Siva. Tulisan yang disalah kutip sebagai tulisan Bateshwar (saat ini disimpan di tingkat atas museum Lucknow), menunjuk pada keterangan yang mengatakan “kuil Siva sebening kristal, begitu cantiknya sampai Dewa Siva memutuskan untuk tinggal disana dan tidak lagi kembali ke tempat asalnya, Gunung Kailash”. Tulisan itu bertanggalkan 1155 M, dipindahkan dari taman Tajmahal atas perintah Shahjahan. Beberapa sejarawan salah menyebut tulisan itu sbg `Bateshwar inscription‘ padahal arsip tidak sedikitpun mengatakan bahwa tulisan itu ditemukan di Bateshwar. Seharusnya tulisan itu disebut dgn `The Tejomahalaya inscription’ karena asalnya memang dari taman Taj sebelum diangkat dan dibuang atas perintah Shahjahan.

Bukannya mendirikan, Shahjahan malah merusak TajMahal dengan kaligrafi hitam Quran dan menghancurkan semua tulisan Sansekerta, arca-arca dan 2 patung gajah besar dari batu yang kedua belalainya membentuk kubah, seolah-olah memberi tanda selamat datang kepada pengunjung. Areal itu sekarang merupakan pintu masuk dimana turis membeli tiket masuk. Orang Inggris, Thomas Twinning, mencatat pada bukunya “Travels in India A Hundred Years ago” di halaman 191 yang menuliskan bahwa pada bulan November 1794 dia tiba di tembok tinggi yang menutupi Taj-e-Mahal dan gedung-gedung disekitarnya. Dari sini dia menaiki tangga menuju portal indah yang merupakan pusat dari bagian gedung yang dinamakan ‘COURT OF ELEPHANTS’/Istana gajah.”

Taj Mahal dipenuhi dengan kaligrafi hitam 14 bab dari Al-Qur’an tetapi tidak ada satupun tulisan yang menyebut bahwa Shahjahan adalah pendiri Taj Mahal. Kalau memang ia orang yang mendirikanTajmahal, ia pasti akan memerintahkan penulisannya sebelum memulai mengutip Al-Qur’an.

Bahwa Shahjahan, hanya mencongkeli TajMahal dengan huruf hitam Qurannya itu disebut oleh Amanat Khan Shirazi sendiri (sang penulis kaligrafi) dalam salah satu karya kaligrafinya di gedung itu. Pengamatan seksama dari huruf-huruf Al-Qur’an itu menunjukkan adanya bekas-bekas tulisan yang ditutup-tutupi dengan batu.

Pintu TajMahal yang menghadap ke sungai menjadi obyek pengujian dengan radiokarbon (karbon-14) oleh laboratorium AS dan membuktikan bahwa pintu itu 300 tahun lebih tua dari masa Shahjahan. Tahun persisnya adalah 1155 M, kira-kira 500 tahun sebelum datangnya Shahjahan.

Dari segi arsitektur juga memberikan bukti yang sangat kuat bahwa TajMahal adalah kuil Siva yang direbut oleh penjajah Islam, Shahjahan.

1. Ahli-ahli arsitektur ternama seperti E.B.Havell, Mrs.Kenoyer dan Sir W.W.Hunterhave menulis bahwa TajMahal dibangun dalam gaya kuil Hindu. Havell menunjuk pada peta kuil Hindu kuno, yaitu candi-candi Siva di Jawa, identik dengan taj mahal.
2. Kubah ditengah-tengah dengan atap lengkung di keempat sudutnya adalah benuk universal kuil/candi Hindu.
3. Keempat menara marmer di keempat sudutnya adalah gaya Hindu yang biasanya digunakan sebagai menara lampu pada malam hari dan pos penjagaan pada siang hari. Menara-menara itu penting untuk menandakan arah-arah suci. Altar-altar perkawinan Hindu dan altar bagi pemujaan Dewa Satyanarayan memiliki tiang/pilar di keempat sudut.
4. Bentuk oktagonal TajMahal memiliki arti khusus dalam tradisi Hindu
karena hanya orang Hindu yang memiliki nama-nama khusus bagi delapan penjuru mata angin dan juga bagi para dewa yang bertempat di kedelapan penjuru tersebut (ditambah 1 arah tengah sehingga menjadi sembilan/sanga) yang dikenal dengan istilah Devatanavasanga /Dewata Nawa Sanga.
5. Ujung menara lancip menunjuk ke loka/dunia yang lebih atas, sementara fondasi menunjukkan dunia dibawah. Benteng, kota, istana dan candi-candi Hindu selalu memiliki layout oktagonal sehingga bersama-sama dengan ujung menara dan fondasi, mereka mewakili kesembilan arah mata angin/Dewata Nawa Sanga.
6. TajMahal memiliki ujung Trisula (semacam garpu bertanduk tiga) diatas kubah. Replika trisula ini diukir didalam tembok batu merah istana bagian timur Taj. Bagian tengah trisula ini menunjukkan sebuah “Kalash” (kendi suci) yang berisi 2 daun mangga dan sebuah kelapa. Ini motif sakral Hindu dan merupakan salah satu atribut penting dewa Siva. Trisula juga merupakan senjata dewa Siva. Trisula-trisula serupa ditemukan di banyak candi-candi Hindu dan Buddha di kawasan Himalaya. Selama ratusan tahun orang salah kaprah dan menganggap ujung Taj
ini sebagai bintang dan bulan sabit Islam yang juga merupakan alat penyambar petir yang dipasang Inggris pada jaman kolonialisme di India. Namun sebenarnya, ujung ini adalah karya metalurgi Hindu karena terbuat dari metal anti-karat, yang mungkin juga dimaksudkan untuk menyambar petir. Bahwa replika trisula ini digambar di bagian timur istana penting bagi umat Hindu karena ini merupakan arah terbitnya matahari. Ujung trisula ini, setelah direbut penjajah Muslim ditempeli kata ‘Allah’ sementara gambar replikanya tidak memiliki kata Allah.

Satu hal yang paling janggal dalam banguan TajMahal yang ada saat ini adalah inkonsistensi dalam banyak hal, yaitu antara lain:

1. Kedua gedung yang menghadap Taj di sebelah timur dan barat identik dalam design, ukuran dan bentuk. Tetapi gedung disebelah timur ini dianggap sebagai ruang komunitas Islam, sementara gedung sebelah barat dikatakan sebagai mesjid. Bagaimana gedung-gedung bagi tujuan yg sangat berbeda bisa berbentuk serupa? Mengapa gedung yg dinyatakan mesjid itu tidak memiliki minaret ? Itu karena tadinya merupakan bagian dari sepasang paviliun resepsi yang merupakan bagian kuil!
2. Beberapa meter dari situ terletak Nakkar Khana alias DrumHouse (Rumah Gendang) yang sangat tidak cocok dengan tradisi Islam. Dekatnya
Drum House ini menunjukkan bahwa gedung ini tadinya bukan mesjid. Mengapa? Karena sebuah Rumah Gendang adalah kebutuhan sebuah kuil atau Istana Hindu. Bukan Islam. Karena pekerjaan rumah Hindu, baik pagi maupun malam, selalu diiringi irama gendang lembut.
3. Ukiran-ukiran dimarmer bagian luar dari kamar cenotaph adalah bagian dari desain dan huruf Hindu “OM”. Juga terdapat motif-motif bunga padma dan kerang yang merupakan motif khas Hindu, yaitu atribut Visnu.
4. Ruang sanctom sanctorum (paling suci) Taj Mahal memiliki pintu-pintu perak dan pinggiran/pegangan emas seperti layaknya candi-candi Hindu. Didalam ruang ini, lantai marmer dihiasi dengan mutiara dan batuan-batuan berharga. Kekayaan material inilah yang membuat Shahjahan tertarik dan merebutnya dari Jaisingh, sang penguasa Jaipur yang tidak berdaya.
5. Orang Inggris bernama Peter Mundy pada tahun 1632 (setahun setelah kematian Mumtaz) melihat pegangan/sandaran tangga berlapis emas dan batuan-batuan berharga. Kalau proses pembangunan Taj Mahal memang sampai makan waktu 22 tahun, maka pegangan/sandaran berharga macam ini akan dipasang paling belakang (setelah gedung hampir selesai) dan tidak mungkin dapat disaksikan pengunjung setahun setelah kematian Mumtaz. Akhirnya semua hiasan berharga, sandaran tangga emas, pintu perak, mutiara, batuan-batuan berharga tersebut dicuri oleh Shahjahan. Penjarahan TajMahal merupakan skandal yang mengakibatkan percekcokan besar antara Shahjahan dan Jaisingh.
6. Di lantai marmer disekeliling cenotaph Mumtaz terlihat bekas-bekas mosaik. Bekas-bekas ini menunjukkan tempat-tempat bekas tongkat penunjang pegangan tangga emas itu. Ini menunjukkan bekas-bekas sebuah pagar (mengelilingi arca Siva).
7. Diatas cenotaph Mumtaz ada lampu yg digantung pada rantai. Yang awalnya adalah tempat kendi air yang diteteskan pada Shivalinga/lingga siva. Tradisi Hindu inilah yang dicontek penjajah Muslim menjadi cerita tetesan air mata yang jatuh pada makam Mumtaz saat terang bulan.

Diantara mesjid dan Rumah Gendang pada TajMahal terdapat sebuah sumur oktagonal bertingkat-tingkat yang berisi tangga yang menuju kebawah sampai ke tingkat batas permukaan air. Ini merupakan sumur tradisional, tempat penyimpan harta kuil ataupun istana Hindu. Barang berharga biasanya disimpan di kamar-kamar bawah tanah guna menyulitkan pencurian/penjarahan. Kalau sampai harta ini ingin direbut musuh maka harta ini bisa didorong dan disembunyikan dalam sumur. Sumur yang pelik pembuatannya dengan berbagai tingkat ini tidak diperlukan bagi sebuah mausoleum.

Yang lebih anehnya lagi, kalau seandainya memang Shahjahanyang membangun TajMahal sebagai mausoleum megah, sejarah pasti akan mencatat tanggal upacara penguburan isterinya. Namun anehnya, hal inipun tidak ada! Tidak adanya detil amat penting ini menunjukkan palsunya legenda TajMahal. Bahkan anehnya, tahun kematian Mumtaz tidak diketahui. Ada yang mengatakan
1629, 1630, 1631 ataupun 1632. Kenapa hal penting macam ini saja perlu ditebak-tebak? Tidakkah ini membuktikan bawha kematian Mumtaz adalah peristiwa yang tidak berarti sehingga orang tidak peduli dan merasa perlu mencatatkannya. Jadi, siapakah yang mendirikan TajMahal bagi kematiannya?

Cerita-cerita besarnya cinta Shahjahan bagi Mumtaz hanyalah isapan jempol. Tidak ada satu peninggalan sejarahpun yang menceritakan kisah cinta mereka!

Biaya pendirian TajMahal tidak sedikitpun tercatat dalam dokumentasi istana Shahjahan karena Shahjahan memang tidak membangunnya. Ini mengakibatkan berbagai spekulasi, mulai dari 4 juta sampai 91.7 juta rupee.

Sama juga dengan periode konstruksi yang diperkirakan antara 10 dan 22 tahun. Kalau memang ada dokumentasinya, orang tidak perlu mengira-ngira seperti ini.

Mengenai desainer Tajmahal kadang disebut Essa Effendy, kadang orang Persia atau orang Turki, Ahmed Mehendis, kadang orang Perancis, Austin de Bordeaux, atau kadang orang Italia, Geronimo Veroneo atau bahkan Shahjahan sendiri. Lalu siapakah sebenaranya desainer aslinya?

20.000 buruh seharusnya sibuk mendirikan gedung ini selama 22 tahun. Kalau ini memang benar, maka di masa Shahjahan seharusnya ada dokumentasi denah arsitektur, daftar jumlah kehadiran buruh, ongkos harian, tanda terima bahan baku dan order-order komisi atau setidaknya prasasti yang ditempatkan dalam bangunan semegah Tajmahal. Namun, tidak terdapat satu peninggalah manuskrippun yang ditemukan.

Karena itu, legenda Taj Mahal hanyalah karangan para “yes men” istana, sejarawan bodoh, arkeolog malas dan para penulis fiksi, tukang sajak, travel agent dan pemandu wisata pencari duit.

Deskripsi taman-taman disekitar TajMahal jaman Shahjahan menyebut nama-nama Jai, Jui, Champa, Maulashree, Harshringar dan Bel. Kesemua ini adalah nama-nama tanaman yang bunga atau daunnya digunakan dalam upacara pemujaan dalam tradisi Hindu. Daun Bel khususnya digunakan bagi Dewa Siva. Kuburan Hindu hanya ditanami dengan pohon besar dan teduh dan bukan dengan buah-buahan dan bunga-bunga.

Candi-candi Hindu sering dibangun di pinggir sungai dan pantai. TajMahal ini dibangun di tepi Sungai Yamuna, lokasi ideal kuil Siva. Nabi Muhammad sendiri memerintahkan bahwa tempat kuburan muslim tidak boleh menonjol ataupun ditandai satu tombak kuburanpun. TajMahal jelas-jelas melanggar hukum Islam.

Tajmahal yang memiliki gerbang masuk yang serupa dikeempat sudutnya menunjukkan kesesuiaannya dengan bangunan khas Hindu yang dikenal dengan nama Caturmukhi, yaitu muka empat.

TajMahal memiliki kubah yang bergaung. Kubah macam ini tidak cocok bagi sebuah makam yang harus menjaga kesunyian. Kubah-kubah bergaung macam ini memang diperlukan candi-candi Hindu karena memperindah suara lonceng, gendang, seruling dalam upacara pemujaan.

Kubah Tajmahal juga dihiasi bentuk bunga padma/lotus. Kubah-kubah Islam seharusnya tidak dihias sebagaimana terlihat di gedung Kedutaan Pakistan di Chanakyapuri, New Delhi, dan kubah-kubah di Islamabad.

Pintu masuk TajMahal menghadap selatan. kalau ini gedung orang Islam, seharusnya opintu masuk menghadap barat.

Banyak orang salah sangka bahwa seluruh gedung itu merupakan tempat pemakaman. Mumtaz dikubur didalam Taj. Jadi Taj bukan dibangung diatas kuburan Mumtaz. TajMahal adalah gedung berlantai 7, Pangeran Aurangzeb juga menyebut ini dalam suratnya kepada Shahjahan.

Jadi dari pemaparan bukti yang sangat mendetail ini sudah jelaslah bahwa TajMahal bukanlah sebuah kuburan yang dibangun oleh Shahjahan untuk istrinya Mumtaz, melainkan pada dasarnya adalah Kuil Hindu untuk dewa Siva, Tejo Mahalaya yang direbut dengan cara licik oleh Shahjahan sebagai penjajah Muslim yang berkuasa di India waktu itu.

Banguan Tejo Mahalaya bukanlah satu-satunya bangunan yang direbut dan dialihfungsikan secara antagonis oleh penjajah Muslim, kuil yang merupakan tempat yang diyakini sebagai lokasi munculnya Rama di Ayodya, tempat munculnya Krishna di penjara Raja kamsha, tempat munculnya Chaitanya dan banyak tempat-tempat suci umat Hindu di India direbut secara licik oleh penjajah Muslim waktu itu. Sebagian di hancurkan dan dijadikan Masjid, namun sebagian lagi malahan dijadikan kuburan/pemakaman. Dan ternyata di candi-candi di Indonesiapun kurang lebih bernasib sama seperti itu.

Note: Untuk melihat gambar-gambar bukti-bukti yang menukjukkan TajMahal adalah Kuil Siva, silahkan kunjungi situs berikut; http://stephen-knapp.com/was_the_taj_mahal_a_vedic_temple.htm

Sumber:

1. Email Gede Sugik dari milis peradah
2. www.stephen-knapp.com
3. Encyclopaedia Britannica, (1964), XXI, 759.
4. A C Roy, Bharater Itihas (in Bengali), I, 186.
5. D J Kale, Epigraphica India , published by S D Kale & M D Kale, I, 140-141.
6. R.C. Majumdar (General Editor), The History and Culture of the Indian People, Bharatiya Vidya Bhavan (in 12 volumes), Mumbai (1996) V, 122.
7. R.C. Majumdar, ibid, Bharatiya Vidya Bhavan, Mumbai (1996) VII, 781.
http://efrialdy.wordpress.com/2009/09/13/muhammad-adalah-nabi-terakhir-yang-ditunggu-umat-hindu/